BELAJAR AL QURAN

Kalian pernah belajar mengaji? Atau saat ini sudah mulai lancar untuk membaca al Quran?  Alhamdulillah saat saya mulai menulis artikel ini saya sudah lancar dalam membaca al quran.

Tentu saja saya masih akan terus belajar untuk makin memperlancar sampai makhraj nya benar. Naaah, kali ini saya ingin bercerita tentang bagaimana proses saya dari belajar membaca al quran dari nol.

Kata ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Dari Keluarga Islami

https://izi.or.id/

Sungguh sangat beruntung saya terlahir dari pasangan yang sudah memeluk islam dari lahir. Dari kecil saya sudah di wanti-wanti untuk belajar membaca al quran. Maka dari PAUD saya sudah bersekolah di Islam Terpadu.

Bapak saya juga terlahir dari keluarga yang agama islamnya bagus. Maka bapak saya sudah memiliki ilmu agama sejak remaja dan saat ini aktif menjadi aktivis.

Begitupun dengan ibu saya yang juga terlahir dari keluarga islam. Hanya saja ilmu agama islam di keluarganya masih minim. Meski begitu, sekarang beliau juga termasuk salah satu aktifis seperti bapak saya.

Karena berada di lingkungan keluarga bapak saya, maka saya tahu bahwa saudara-saudara kandung bapak saya alias bulek, paklek, budhe, dan pakdhe saya semua memiliki agama yang bagus pula.

Ibu mereka yang juga adalah mbah putri saya adalah seorang ibu yang tegas tapi perhatian dan penyayang. Dan bulek, paklek, budhe, maupun pakdhe saya sebagian besar juga adalah seorang aktifis yang masih aktif hingga saat ini.

Saya memiliki dua bulek dan satu budhe yang bergabung menjadi angota partai. Lalu satu paklek yang juga bergabung di dalam sebuah partai dan saat ini sedang menjabat menjadi anggota dewan. Sepupu-sepupu saya, meski tak terlalu banyak yang mengikuti jejak orang tuanya untuk aktif menjadi aktifis (termasuk saya sendiri) tapi meraka juga orang-orang hebat yang mengerti agama.

Nah, dilahirkan dalam keluarga yang sebagian besar sangat paham agama, tentu saja berpengaruh besar bagi saya. Meskipun saya hanya mengikuti apa yang bapak saya minta untuk belajar mengaji dan saya dulu tidak memiliki motivasi apapun dalam hal agama, tapi itu benar-benar menjadi bekal untuk saya saat ini.

 

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”. surat Yusuf ayat 2.

 

Belajar Sejak Dini

https://www.wajibbaca.com/

Saya memulai mengenal huruf hijaiyah sejak masuk Taman Kanak-Kanak kecil. Saat itu saya hanya hafal sedikit huruf hijaiyah. Dan berlanjut hingga kelas 2 Sekolah Dasar, barulah saya sudah menghafal seluruh huruf hijaiyah. Memang butuh proses yang agak lama, tapi yang jelas saya sudah tidak terbalik-balik lagi mengenali huruf hijaiyah.

Di Sekolah Dasar tempat saya, mengajinya menggunakan metode Iqro’ sampai saat kelas 4 kurikulum sekolah menggantinya dengan metode Ummi. Berhubung saya baru menghafal huruf hijaiyah saat kelas 2, maka saya belajar huruf hijaiyah bersambung baru saat kelas 2 SD.

Butuh kesabaran yang luar biasa dalam mempelajari huruf-huruf hijaiyah bersambung. Bersyukur karena di sekolah juga mempelajari Bahasa Arab, lambat laun saya mulai bisa mengikuti kurikulum belajar mengaji dari sekolah saya.

Oh iya, untuk metode iqro sendiri terdapat 7 level dengan masing masing satu buku satu level, atau biasanya disebut dengan jilid. Jilid 7 sendiri merupakan level yang sudah sama seperti membaca al quran.

Saya memulai jilid 1 dari kelas 2, lalu naik jilid 2 di kelas 3, dan begitu terus sampai kelas 6 SD saya sedang menjalani jilid 5. Di banding kakak-kakak saya yang sudah bisa membaca al quran saat kelas 6 SD, proses saya belajar memang lama.

Masih teringat di kenangan saya, saat kelas 6 SD guru mengaji saya pernah berkata, “suara kamu bagus, kalau sudah lancar sampai membaca al quran mungkin semakin bagus. Cara baca huruf-hurufnya juga sudah hampir semua benar. Semangat ya.”

Setelah di semangati dan di puji oleh guru mengaji favorit saya, belajar mengaji jadi tambah semangat dan menyenangkan bagi saya.

 

 “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran,” (QS. Al Qamar 17).

 

Sempat Diragukan Orangtua

https://www.facebook.com/nasehatbermanfaat/

Yang namanya belajar sesuatu, pasti ada dimana kita merasa jenuh, bosan, atau ingin menyerah. Begitu juga yang pernah saya alami saat belajar membaca al quran. Saya pernah sempat di ragukan oleh orangtua kandung sendiri jika saya sudah mulai bisa membaca al quran.

Saat itu saya sedang menemani adik saya belajar mengaji di ruang tamu. Lalu kakak laki-laki saya muncul dan menganggu belajar kami. Lalu jadilah kami bertiga bercanda dan bermain-main. Salah kami adalah, kami sempat mengaji dengan bermain-main. Dan hal itulah yang membuat bapak saya marah kepada saya dan kakak saya.

“Mas itu sudah bisa membaca al quran! Kalua mengajari adiknya yang benar! Dan adek kalua belum bisa membaca al quran dengan benar gak usah dibuat-buat bisa yang malah mengubah kandungan al quran!”

Seperti itu kalau saya tidak salah mengingat perkataan bapak. Saat itu saya benar-benar sakit hati jika bapak masih belum menganggap saya sudah mulai bisa membaca al quran. Lalu saya sempat merasa terbebani oleh perkataan bapak dan berpengaruh juga saat di sekolah.

Saat belajar mengaji di sekolah saya sempat membaca terburu-buru dan tidak serius. Lalu guru mengaji saya bertanya karena heran dengan sikap saya.

“ Kemarin bacaan kamu masih bagus, kok sekarang jadi terburu-buru dan banyak salahnya? Kenapa mbak?” dengan sabar guru saya mendengarkan cerita saya bahwa saya sakit hati dengan perkataan bapak.

Selesai menceritakan alasan saya, justru guru mengaji saya malah tertawa. Saya sempat bingung dan kecewa pada awalnya. Lalu akhirnya guru saya menjelaskan dengan perlahan.

“belajar membaca al quran itu memang tidak mudah. Apalagi masalah seperti kamu yang bukannya di dukung dan disemangati oleh orangtua sendiri, tapi justru di ragukan bahwa kamu sudah mulai bisa membaca al quran, “

“tapi kamu harus tahu, bahkan bagi seseorang yang membaca al quran dengan terbata-bata saja sudah diberi pahala, apalagi saat nanti kamu sudah mulai lancar membacanya?”

“mungkin bapak kamu sedang ada masalah sehingga sedikit emosi, atau mungkin memang marah saat tahu anaknya mempermainkan ayat-ayat al quran yang istimewa”

Setelah di jelaskan panjang lebar dan di nasehati oleh guru mengaji saya, saya terdiam. Mungkin beliau memang benar. Bapak kalau marah pasti ada alasannya atau memang lagi punya banyak masalah sehingga menjadi sensitif.

Akhirnya saya diminta untuk mengulang membaca buku mengaji ummi jilid 5 yang hampir selesai, dan guru saya pun tersenyum saat saya membacanya seperti biasa yang saya lakukan sebelumnya.

 

Nabi saw. bersabda, “Orang yang membaca Alquran dengan fasih dan lancar akan dikelompokkan dengan orang-orang yang mulia. Orang yang membaca Alquran dengan tidak lancar, namun ia tetap berupaya untuk membacanya, maka ia akan mendapat dua pahala” (HR. Muslim).

 

Melancarkan Di Pondok Pesantren

https://www.liputan6.com/

Setelah pada akhirnya lulus SD hanya bisa selesai jilid 5 Ummi, tapi saya tetap senang karena yang penting saya sudah bisa membaca al quran. Kemudian saya melanjutkan sekolah ke Asrama Islam Terpadu.

Di SMP inilah saya melancarkan bacaan al quran dan juga belajar ilmu tahsinnya. Karena di sekolah ini ada target hafalan yang harus terpenuhi, itu benar-benar semakin membantu saya dalam belajar al quran.

Karena baru paham tentang teori makhraj di SMP, saya mengulang kembali hafalan juz 30 saya untuk membenarkan bagian-bagian yang masih salah. Agar saat melanjutkan hafalan sudah terbiasa dengan mempraktikkan tajwidnya dengan benar.

Tidak mudah memang menghafal banyak teori makhraj dan tajwid dalam waktu singkat. Tapi meski begitu, guru di SMP saya pernah berkata,

“ tak masalah kalian belum hafal seluruh materi tajwid dan makhraj, yang penting kalian sudah terbiasa dan bisa mempraktikkannya.”

Maka target saya adalah bisa membaca al quran dengan tajwid yang benar dan lancar, hingga naik kelas 2 saya sudah lancar membaca al quran dengan tartil, Alhamdulillah.

 

Jangan Menyerah Untuk Belajar

“Kelemahan terbesar kita adalah menyerah. Cara paling pasti untuk sukses adalah mencoba sekali lagi. ” – Thomas A. Edison

Naaahh, itu cerita penulis senyuminaja tentang bagaimana proses belajar dari nol sampai lancer, dan dari kecil hingga sekarang.

Yang ingin penulis sampaikan adalah, seberapa sulit kalian dalam proses belajar sesuatu, jangan pernah menyerah sampai menuntaskan pembelajaran. Karena yang akan menikmati usaha seseorang adalah orang itu sendiri.

https://www.google.com/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *