OPERASI BEDAH LUTUT

Tidak semua orang pernah merasakan masuk Rumah Sakit. Begitu juga mengalami operasi atau bedah karena tidak semua orang punya penyakit tertentu atau kejadian tertentu yang mengharuskan untuk melakukan tindakan kedokteran tersebut.

Namun penulis SenyuminAja punya pengalaman merasakan di bedah salah satu bagian tubuh yaitu lutut kaki. Nah, kali ini penulis senyuminaja mau berbagi cerita tentang rasanya setelah dibedah.

Jatuh Karena Meniru Kakak

Disini penulis SenyuminAja akan mulai bercerita tentang pengalaman menjadi pasien yang dioperasi.

Jadi saat itu saya masih berusia 10 tahun. Perlu diketahui bahwa saya adalah seorang yang suka untuk bergerak aktif dan tidak terbiasa untuk duduk diam termenung mendengarkan ceramah.

Waktu itu saya sedang bermain di sebuah Paud bagian belakang bersama satu kakak laki-laki kandung dan satu adik sepupu laki-laki. Dan Paud ini merupakan tempat ibu kandung saya dan ibu kandung sepupu saya mengajar.

Saat itu saya mendengar kakak saya menantang adik sepupu saya untuk melakukan apa yang akan kakak saya lakukan. Lalu kakak saya pun naik ke atas seluncuran, dan tiba-tiba langsung meluncur kebawah dengan berlari. Ya, dengan berlari!

Awalnya saya pikir itu biasa saja. Tapi melihat adik sepupu saya yang tidak berani untuk mencoba dan kakak saya mengejeknya, saya jadi penasaran. Dan benar saja, setelah kakak dan sepupu saya menjauh dari seluncuran, saya melakukan seperti apa yang kakak saya lakukan.

Nah, disinilah mulanya. Sudah takdir dan nasib saya, saya yang meniru kakak saya, tapi saya yang celaka. Entah kenapa setelah berlari dari atas seluncuran, saya langsung jatuh ke tanah dengan posisi kaki menekuk. Lalu saya merasakan nyeri yang luar biasa di bagian lutut kaki sebelah kiri.

https://id.theasianparent.com/

Awalnya saya hanya meringis sambal menahan sakit, tapi karena semakin sakit saya meluruskan kaki. Dan saat proses meluruskan kaki justru tambah merasakan sakit sehingga saya berteriak dan menangis.

Kakak dan sepupu saya yang mendengar teriakan saya menengok sebentar dan awalnya hanya menganggap saya hanya sekedar jatuh kesandung. Tapi karena kakak saya yang melihat saya terus menangis akhirnya berlari menghampiri.

Membuat Banyak Orang Khawatir

Setelah kakak saya menghampiri, kakak saya bertanya kenapa saya menangis dan kenapa saya terjatuh. Tapi karena hanya mendapat respon saya yang hanya berkata sakit sambal memegang lutut kiri, kakak saya pun kebingungan.

Ditengah kebingungan, kakak saya menyuruh adik sepupu saya untuk memanggil ibunya yang juga bulek kami. Lalu sambal menunggu bulek, kakak saya mencoba menggendong saya untuk memindahkan saya ke area depan.

Tapi saat kakak saya mulai mengangkat saya dan kaki kiri saya tertekuk, justru saya memukul punggung kakak saya dan berkata sakit berkali-kali. Akhirnya kakak saya menurunkan kembali saya. Dan dengan muka bingung juga khawatir, kakak saya bertanya “ terus mau gimana?”

Tapi saya hanya menggeleng karena saya juga tidak tahu apa yang harus saya lakukan karena untuk berdiri saja saya tidak berani. Setelah bulek datang, dan setelah pertimbangan-pertimbangan tertentu, saya di gotong oleh bulek dan dua orang guru lain dan dibawa ke atas motor dengan posisi kaki kiri diluruskan.

Syukurnya rumah saya hanya berada di area belakang Paud, jadi tidak sampai lima menit saya sudah sampai dirumah dan di gotong ke sofa ruang tamu.

Saat itu saya melihat kedua orangtua dan bulek saya, juga beberapa guru yang datang ke rumah saya terlihat sibuk berdiskusi, menelpon dan berjalan bolak-balik. Dan saat itu saya membatin “ternyata hanya karena saya mencoba berlari turun seluncuran saya sudah banyak membuat orang khawatir.”

Mengubah Kehidupan

http://www.erabaru.net/

Setelah berbagai kesibukan yang ada, saya melihat sebuah mobil milik teman bapak saya datang. Dan tanpa basa-basi saya diangkat masuk kedalamnya. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi selama perjalanan menuju ke rumah sakit.

Yang saya ingat setelah sampai rumah sakit, saya langsung di bawa ke tempat area rontgen ( baca : Rongsen ) menggunakan brankar dorong. Yang saat itu juga merupakan pengalaman saya didorong menggunakan itu. Karena saya malu, saya menutupi wajah saya dengan selimut yang ada saat saya dinaikkan ke atas brankar tadi.

Oh iya bagi pembaca yang belum mengetahui apa itu rontgen, rontgen adalah tindakan menggunakan radiasi untuk mengambil gambar bagian dalam dari tubuh seseorang, untuk mendiagnosa masalah kesehatan dan yang lainnya untuk pemantauan kondisi kesehatan yang ada.

Setelah menunggu agak lama entah apa yang dilakukan orang tua saya untuk mengurus berbagai keperluan saya, saya dibawa masuk kedalam ruang rontgen. Saat proses melakukan pengambilan gambar, kaki kiri saya di gerakkan ke samping kiri dan kanan.

Saat digerakkan seperti itu saya merasakan nyeri kembali muncul dan sempat menganggu proses pengambilan karena tangan saya mencegah tangan seorang suster yang menyesuaikan kaki saya.

Setelah mendapat panggilan untuk melihan hasil rontgen, saya tidak bisa masuk ruangan karena saya berada diatas brankar. Tak lama kemudian ibu saya keluar dan menghampiri saya, lalu mengajak saya mengobrol.

“kalau kamu operasi kaki, gak apa-apa ya ? “ dan saat itu juga saya bingung harus berkata apa. Saya berpikir, memang seperti apa rasanya operasi? Memangnya kenapa dengan kakiku? Dan masih ada beberapa pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya waktu itu.

Melihat saya yang hanya terdiam, ibu saya melanjutkan bertanya

“mau tau gak kenapa harus sampai di operasi?” dan saya hanya mengangguk.

“ tempurung lutut kamu bergeser keatas, dan ada bagian kecil yang patah alias terpisah dari tempurung utama. Dan itu tidak bisa jika hanya di pijat, tapi harus di bedah agar setidaknya kembali ke tempatnya“

Dijelaskan seperti itu, dengan otak yang masih berumur 10 tahun, butuh berpikir keras untuk mencernyanya. Dan berbagai pertanyaan lain muncul kembali.

Terus bagaimana dengan aktifitasku? Aku masih bisa berjalan dan berlari kan? Aku masih bisa menggunakan kakiku kan? Aku masih normal kan?

Dan tanpa ku sadari karena melamun kan hal-hal tidak penting yang belum jelas, aku sudah berada di dalam ruangan pasien. Hanya satu yang saya pikirkan dengan pasti. Setelah operasi esok, sepertinya hal itu akan sedikit mengubah kehidupan saya.

https://www.ilmusiana.com/

Bedah Dimulai !

Sebelum hari dimana saya melakukan operasi, saya di haruskan untuk berpuasa selama 8 sampai 12 jam sebelum operasi.

Keesokan harinya, tepatnya menjelang siang hari, saya dibawa menuju keruang operasi. Sampai didepan ruangannya, akan dilakukan pembiusan terlebih dahulu.

Saat itu saya masih ingat bahwa kulit saya termasuk kulit yang sulit dicari pembuluh venanya untuk penyuntikan. Nah, waktu itu adalah pertamakalinya saya disuntik sekaligus dibius.

Saya saat itu menangis sambal memegang tangan ibu. Saking susahnya ditemukan posisi untuk menyuntik, sampai dilakukan percobaan 5 kali. Setelah itu saya merasa perlahan-lahan hilang kesadaran. Padahal, waktu itu saya masih dalam posisi menangis.

http://awalbros.com/

Dan tak terasa beberapa jam telah terlewati. Saya saat itu merasa bangun setengah sadar dalam posisi menangis lagi. Jadi saya bisa merasakan brankar masih melaju, hingga saya di angkat ke ranjang tidur.

Setelah kurang lebih setengah jam, kata ibu, akhirnya saya mulai berhenti menangis dan mulai sadar. Saya mencoba membuka mata perlahan-lahan. saya akhirnya juga sadar bagaimana rasanya setelah bedah lutut. Kaki saya berasa kaku dan seperti hampir mati rasa. Sedikit nyilu dan pegal juga.

Hingga beberapa hari kemudian saya merasa benar-benar kesal dengan nasib saya yang belum bisa menggerakkan kaki kiri saya. Kata dokter, dua atau tiga minggu kedepan saya belum akan bisa berjalan.

Dan satu bulan berikutnya akan dibantu dengan alat bantu jalan untuk melakukan aktifitas sampai benar-benar bisa berjalan tanpa alat bantu lagi. Hari-hari di rumah sakit benar-benar seperti neraka bagi saya yang suka polah.

Beruntung saat kejadian saya dalam keadaan baru saja liburan kenaikan kelas. Tapi sedih jug ajika liburan panjang harus diisi diatas ranjang dan belajar berjalan.

Hikmah

 

” Ujian adalah sarana untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan untuk dijadikan sebagai beban diri sendiri “

 

Sampai sini, penulis ingin memberitahukan kepada pembaca sekalian. Bahwa hidup itu kita syukuri aja apa adanya. Kita jalani dengan semestinya, dengan bahagia. Pokoknya apapun yang terjadi, senyumin aja deh.

Setelah saya mengalami operasi, saya menjadi pribadi yang sedikit kalem meski tidak bisa dibantah bahwa saya masih suka bergerak daripada berdiam diri.

Saya sadar, setelah saya mengalami tidak bisa berjalan dan tidak bisa berlari selama beberapa minggu, lalu bagaimana nasib orang-orang yang sudah tidak punya kaki? Walaupun tulang tempurung saya tidak kembali dengan sangat normal, saya bersyukur masih bisa berjalan dan berlari.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *