BERANGKAT KE ASRAMA PERTAMA KALI

Setiap orang pasti punya pengalaman masing-masing dalam kehidupannya di masa lalu. Mau itu pengalaman menyenangkan, menyedihkan, memalukan, mendebarkan, menakutkan, kejadian yang membuat trauma, dan masih banyak lagi.

Saat kita beranjak dewasa, kita akan semakin sadar bahwa ternyata kita memiliki banyak sekali kejadian yang tidak pernah bisa kita lupakan, entah itu kejadian tidak penting atau hal-hal remeh, maupun kejadian yang sangat penting atau hal-hal besar.

https://fratermigani.blogspot.com/

Contohnya saat kecil dulu ada yang pernah merasakan belajar berbicara “R” hingga kelas 4 SD baru lancer. Atau pernah belajar mengendarai sepeda kayuh dan jatuh berkali-kali.

Ada juga pengalaman seperti maju ke panggung pertama kali dan saking groginya sampai pingsan. Bahkan kisah percintaan di tembak oleh seseorang pertama kali juga bisa kita sebut sebagai pengalaman hidup.

Nah, untuk tulisan pertama ini, penulis ingin berbagi cerita tentang pengalaman hidup penulis sendiri. Yaitu tentang bersekolah di asrama untuk pertama kalinya saat SMP. Dan kebetulan saya berangkat ke sekolah saat bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Berangkat Dua Kali

http://seniberjalan.com/

Mungkin untuk kebanyakan orang yang memilih untuk bersekolah menengah pertama di asrama akan merasakan grogi, deg-degan, sedih, atau ragu apakah siap atau tidak untuk hidup tanpa didampingi oleh orang tua di umur yang masih terhitung sangat muda.

Namun yang saya rasakan di malam sebelum keesokan harinya berangkat ke luar kota adalah ‘biasa saja’. Saat sedang mempersiapkan barang-barang yang akan diangkut dan di bawa ke asrama, saya tidak merasa sedih maupun senang.

Tidak sedih karena saya tau bahwa saya masih ada kakak laki-laki saya yang juga sekolah di tempat sama. Dan juga tidak senang karena saya tidak suka untuk beradaptasi dengan berbagai hal dalam satu waktu.

Karena sekolah yang bisa ditempuh kurang dari satu jam dengan mengendarai sepeda motor, akhirnya orangtua saya memutuskan untuk mengecek asrama tempat saya tidur terlebih dahulu di pagi harinya, baru sore harinya akan kembali lagi dengan barang-barang yang akan dibawa.

Saya sih, menurut saja waktu itu, karena orangtua saya hari itu ada acara di siang harinya. Yang penting saya tidak harus berangkat sendirian dengan barang bawaan yang sangat banyak.

Pagi hari keesokan harinya, saya diantar oleh ibu saya dengan membawa satu tas gendong yang hanya berisi dua pasang mukena dan sprei bantal guling.

Saat sesampainya disana, hiruk pikuk keluarga yang mengantar murid baru sangat terlihat. Tak suka hal-hal ribet, saya dan ibu saya langsung ke meja informasi dan mencari tahu gedung juga kamar yang akan saya tempati.

Setelah menemukan kamarnya, saya langsung menata sprei dibantu ibu, dan memasukkan mukena ke almari, lalu mengunci lemari. Selesai menata, saya memasukkan kunci ke dalam tas gendong yang sudah kosong.

Lalu dengan ibu, kami pamit dengan salah satu guru yang terlihat untuk kembali pulang mengambil barang-barang. Awalnya guru dan panitia yang ada di meja informasi terlihat heran saat kami ingin pulang kembali, tapi setelah ibu saya menjelaskan mereka tertawa.

“berangkatnya dua kali ya bu, berarti” kata salah satu guru. Kami pun berlalu untuk pulang ke rumah.

Sampai di rumah, saya memuaskan melakukan kegiatan yang tidak bakal bisa sering saya lakukan di asrama nanti. Sehingga tidak terasa, waktu sudah menjelang sore

http://ranselkecil.com/

Tidak Jadi Dapat Almari Baru

https://id.pinterest.com/

Orang tua saya menyuruh saya untuk bersiap-siap dengan sebenar-benarnya karena sudah tidak balik lagi kerumah hingga mendapat jatah liburan dari sekolahan. Saya hanya mengangguk dan berkata bahwa saya sudah siap.

Selama diperjalanan saya tidur karena tidak kuat alias mual menaiki mobil yang melewati jalan berkelok-kelok.

Sampai disana untuk kedua kalinya, suasana sudah mulai sepi karena kebanyakan murid baru sudah sampai pagi hari maupun siang hari. Setelah memarkirkan mobil di dekat gedung kamar, saya dan ibu saya mengeluarkan barang-barang.

Setelah barang-barang turun semua, saya mencari tas gendong dimana saya menaruh kunci almari disana. Dan, disinilah hal menyebalkan pertama saya sekolah diasrama.

Untuk orang yang pelupa seperti saya, saya lupa untuk laporan dengan ibu saya dimana saya menaruh kunci. Sehingga saya baru tersadar bahwa kunci almari baru saya masih di dalam tas gendong yang pertama saya bawa tadi.

Dan hebohlah guru yang menyambut saya juga kedua orang tua saya mengetahui bahwa kunci untuk jatah almari saya ketinggalan di rumah.

Saat itu juga orang tua saya mengomel bahwa sudah mengingatkan untuk mengecek kembali barang apa yang belum naik ke mobil, tapi saya hanya mengangguk dan tidak khawatir tentang apapun.

Setelah diskusi dengan beberapa guru yang menjadi panitia penyambutan murid baru di sekitar kamar, karena murid baru sudah ada kegiatan di masjid, bapak saya diijinkan masuk ke kamar putri untuk membongkar paksa jatah almari alias loker saya.

Saya membatin dalam hati, almari belum digunakan satu hari, sudah di bobol saja. Saya sempat kesal dengan diri sendiri karena lupa meneliti tas gendong yang sebelumnya saya bawa terlebih dahulu. Kan saya jadi tidak mendapat almari yang masih baru.

Tidak Menangis Saat Ditinggal Pulang

https://www.dakwatuna.com/

Biasanya, bagi murid baru saat orangtua di haruskan untuk pulang dan melepaskan anak-anaknya, kebanyakan bahkan sebagian besar mereka saat berpamitan kepada kedua orang tuanya akan merasa sedih dan menangis. Apalagi bagi yang baru pertama kali akan tinggal jauh dari orang tua mereka.

Karena sebagian besar para orangtua sudah pulang, aku jadi tidak bisa penasaran dengan para murid baru lainnya saat ditinggal kedua orangtua mereka.

Selesai menata barang-barang pribadi dibantu oleh ibu, kami kembali ke mobil. Di dalam mobil, saya diberi ‘wejangan’ singkat oleh bapak. Setelah diberi nasehat, orangtua saya heran melihat saya yang sama sekali tidak terlihat sedih.

Aku hanya berkata, “kan masih ada kakak, lagi pula aku juga yang minta masuk asrama karena gak mau sekolah di negeri.”

Kedua orangtua saya saat itu tertawa setengah heran dan senang karena saya tidak menangis saat mereka akan pulang.

Akhirnya setelah diberi sangu untuk satu bulan kedepan, aku mencium kedua tangan dan kedua pipi mereka seperti biasa saat berpamitan. Lalu dengan rela melepas mobil mereka sampai tidak terlihat oleh kedua mata saya.

Setelah tidak melihat mobil bapak, saya menuju ke tempat dimana guru berada dan bertanya dimanakah kegiatan murid baru yang sekarang ini sedang berlangsung.

Sambil menemani saya dibelakang karena acara hampir selesai, guru yang mengantar saya yang terlihat masih muda mengajak saya mengobrol. Beliau bertanya apakah saya sedih ditinggal pulang oleh orang tua saya.

“ biasa aja sih bu. Lagi pula saya pernah beberapa kali ditinggal sendiri maupun ditinggal dengan adik saya dirumah. Jadi saya hanya berpikir seperti saat itu aja”

Beliau pun terkagum dengan saya dan bercerita bahwa tadi sempat ada salah satu murid baru putri yang menangis sampai sesenggukan bahkan sampai lari mengejar mobil orangtuanya yang akan pulang.

Aku sempat tidak percaya dengan beliau, hingga akhirnya aku hanya bisa tertawa dalam hati saat esoknya aku mengetahui bahwa aku sekamar dengan anak tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *